Perbedaan Antara Musnad dan Sunan

KITAB-KITAB HADITS DAN TINGKATANNYA.
Kitab-kitab hadits yang biasa disebut-sebut dalam mengemukakan alasan untuk menentukan sutu hukum agama itu banyak sekali.Tetapi yang masyhur diantaranya ialah Shohih bukhori,shohih Muslim,Jami’ Imam Tirmidzi,Shohih Ibnu Hibban,Shohih Ibnu Khuzaimah,Almuwaththo’ Imam Malik,Sunan Abu Dawud,Sunan Abu Dawud,Sunan Ibnu Majah,Sunan An Nasa’i,Sunan Al Baihaqy,Al-Mustadrok Imam Hakim,Musnad Imam Syafi’ie,Musnad Ahmad,Al-Mu’jam Thobroni (terdiri dari tiga macam,shoghir,awsath dan kabir),dan Shohih Ibnu ‘Awanah Rodhiyallohu ‘anhum wa wardhoohum ajma’iin.
Dari uraian diatas kita dapat mengetahui bahwa diantaranya ada yang disebut Musnad,sunan atau tidak menggunakan kedua kata tersebut.
Perbedaan antara musnad dan sunan adalah sebagai berikut:
Pertama : Musnad artinya yang disandarkan.Jadi kalau dikatakan sanad berarti rangkaian para perawi dari mukhorrij atau mudawwin paling akhir sampai rowi yang pertama langsung menerima dari Rosulullah SAW.Misalkan Musnad Imam Syafi’ie,maka itu artinya hadits-hadits yang dikumpulkan Imam Syafi’ie,sedang cara pengumpulannya ialah tiap-hadits yang diriwayatkan oleh sahabat secara berurutan,misalnya sahabat Ibnu Abbas,lalu Umar,Aisyah,Abu Hurairah dan demikian seterusnya.Oleh karena itu kitab hadits yang bernama Musnad,fasal-fasalnya tidak berurutan seperti kitab fiqih,misalnya fasal thoharoh dulu,baru fasal sholat,zakat,fasal haji.Kemudian dilanjutkan fasal Mu’amalat seperti jual beli dan lain-lain.Diteruskan dengan fasal Munakahat atau yang berhubungan dengan pernikahan,perceraian,fasakh nikah,ruju’ dan sebagainya.Kemudian masuk bab Jinayat atau pelanggaran undang-undang dan masing-masing hukuman yang wajib diberikan terkait dengan pelangaran-pelanggaran tersebut,lalu disambung dengan bab-bab fiqih yang lainnya hingga selesai.
Nah jadi jelas kitab musnad itu isinya tidak beraturan dan berurutan masalah demi masalah yang diketengahkannya.Bab-bab dalam musnad itu,fasal-fasalnya adalah perihal rowi-rowinya yang diutamakan,maka didalamnya terdapat fasal Aisyah,fasal Abdullah bin Umar,Abu Hurairah,Abdullah bin Abbas dan seterusnya dari mulai rowi yang terbanyak meriwayatkan hadits sampai yang paling sedikit.
Kedua: Sunan ialah kitab hadits yang bab-babnya diurutkan menurut urutan fasal-fasal yang berhubungan dengan fiqh,seperti bab thoharoh dulu,lalu mu’amalat,munakahat,jinayat dan sampai akhirnya menurut rangkaian urutan persoalan-persoalan fiqh.
Selanjutnya apabila kitab hadits itu bukan disebut musnad atau sunan,maka cara perurutannya adalah berbeda-beda.ada yang menyerupai musnad dan ada pula yang menyerupai sunan.
Sekilas Tentang Kitab-kitab Sunan
—————————————–
Para pelajar hendaklah mendalami kitab-kitab sunan seperti Kutub as-Sittah, al-Muwaththa’ karya Imam Malik, dan Musnad karya Imam Ahmad.
Yang dimaksud dengan Kutub as-Sittah; adalah ash-Shahihain, Sunan Abu Dawud, Jami’ at-Tirmidzi, Sunan an-Nasa’i dan Sunan Ibnu Majah.
Yang dimaksud dengan kitab Sunan adalah kitab yang ditulis dengan mengikuti urutan bab fiqh, seperti Iman, Thaharah, salat, zakat, dan seterusnya, dan kebanyakan berisi hadis marfu’, sedikit dan jarang sekali memuat khabar mauquf .
* * *
SUNAN ABU DAWUD
Penyusunnya adalah Abu Dawud Sulaiman bin al-Asy’ats bin Ishaq al-Azdi as-Sijistani. Beliau mengkhususkan kitabnya dengan hadis-hadis hukum, di dalamnya tidak terdapat kitab zuhud dan fadha-ilul a’mal. Di dalam surat beliau kepada penduduk Makkah, dalam mengomentari kitabnya sendiri (h.34), beliau berkata, “Dan tidaklah aku menyusun di dalam kitab as-Sunan ini melainkan hadis-hadis hukum, tidak aku masukkan kitab zuhud, fadha-ilul a’mal dll”
Kitab beliau yang bernama as-Sunan adalah salah satu kitab yang sangat dibutuhkan, hanya saja beliau tidak mempersyaratkan derajat sahih untuk hadis yang tercantum di dalamnya. Sehingga di dalamnya berisi hadis sahih, hasan, shalih, dla’if, dan munkar.
Beliau juga tidak mempersyaratkan disebutkannya semua hadis tentang suatu bab, tetapi hanya dipilihkan yang bermanfaat saja, dan kadang-kadang beliau menyebutkan satu hadis dari jalan yang berbeda-beda karena ada ziyadah, baik dalam matan maupun sanad. Dan kadang-kadang pula dibicarakan pada sebagian hadis tentang i’lalnya, menyebutkan ikhtilaf (perbedaan) perawinya.
Beliau telah membicarakan kitab Sunannya secara terperinci di dalam surat yang beliau tulis untuk penduduk Makkah. Ini adalah surat yang sangat bermanfaat, semoga Allah swt. Memberikan rahmat kepada beliau dengan rahmat yang luas.
* * *
JAMI’ AT-TIRMIDZI
Penyusunnya adalah Abu Isa Muhammad bin Isa bin Saurah, bin Musa bin adh-Dlahhak as-Sulami, al-Bughi, at-Tirmidzi. Beliau mengalami kebuta-an di akhir usianya.
Sebagaimana yang telah saya baca di dalam suatu manuskrip kitab Jami’ yang mu’tamad, yang benar kitab Imam Tirmidzi bernama al-Jami’ al-Kabir. Kemudian ada yang menyebutnya secara berlebihan dengan nama al-Jami’ ash-Shahih, tetapi nama inilah yang masyhur. Hanya saja, di dalam kitab ini terdapat sejumlah hadis dla’if, munkar, dan maudlu’.
Tirmidzi adalah murid Imam Bukhari, dan pengikut beliau dalam metode penulisan hadis. Beliau juga banyak menukil pendapat Imam Bukhari dalam membicarakan kondisi periwayat, sima’ (cara mereka mendengarkan hadis), dan i’lal terhadap hadis periwayat tersebut.
Metode penulisan Kitab Jami’ ini berbeda dengan metode yang digunakan oleh Abu Dawud dalam menuliskan kitab Sunan, khususnya at-Tirmidzi memasukkan bab-bab tentang zuhud dan fadha-ilul a’mal, bab yang tidak dicantumkan di dalam Sunan Abu Dawud.
Kitab ini adalah kitab yang menyeluruh, besar manfaatnya, terkumpul di dalamnya ilmu riwayah hadis, dirayah, i’lal, ahwal rijal, dan madzhab-madzhab ahli ilmu dalam bab fiqh. Hanya saja at-Tirmidzi di dalam kitabnya ini menggunakan istilah-istilah tersendiri untuk menyebut status kualitas hadis-hadisnya. Tindakan ini memungkinkan terjadinya perbedaan pengertian dengan para ulama’ lainnya. Istilah itu antara lain hasan sahih, hasan gharib, hasan sahih gharib, atau hasan laisa isnaduhu bidzalika al-qaim (hasan tetapi sanadnya tidak lurus).
Di dalam buku ini bukan tempatnya untuk menjelaskan maksud dari istilah-istilah tersebut. Saya telah membahasnya secara sederhana di dalam Syarah (penjelasan) terhadap kitab al-Mauqidhah karya adz-Dzahabi, dan al-Hasan fi mizan al-Ihtijaj. Dan kadang-kadang at-Tirmidzi terlalu sembrono dalam menentukan status tersebut, dengan segala perbedaannya, sebagaimana telah saya jelaskan di dalam beberapa tulisan.
Secara umum kitab ini termasuk kitab yang sangat bermanfaat.
* * *
SUNAN AN-NASA’I
Penyusunnya adalah Ahmad bin Syu’aib bin ‘Ali bin Sinan bin Bahr bin Dinar Abu ‘Abdurrahman an-Nasa’i.
Di dalam kitab sunan ini terdapat hadis sahih, dla’if, dan sangat dla’if.
Adalah suatu kesalahan apabila ada yang menganggap hadis dalam Sunan an-Nasa’i semuanya sahih. Di dalam kitab ini ada ungkapan terhadap sebagian hadis yang tidak difahami dengan baik kecuali oleh orang yang telah diberikan ilmu dan pengetahuan oleh Allah. Di dalam kitab ini terdapat pembahasan tentang i’lal dan perbedaan pendapat. Kitab ini terhadap kitab-kitab sunan bagaikan satu mutiara di dalam untaian permata
Apabila disebut Sunan an-Nasai saja maka yang dimaksudkan adalah Sunan al-Mujtaba, yaitu sunan karya beliau yang Sughra, Beliau juga memiliki Sunan Kubra. Kitab al-Mujtaba bukanlah kitab hasil ringkasan murid beliau, Ibnu as-Suni, sebagaimana didakwakan oleh sebagian ulama. Al-Mujtaba’ adalah karya beliau dan hasil seleksi beliau. Allahu a’am.
* * *
SUNAN IBNU MAJAH
Penyusunnya adalah Abu Abdullah Muhammad bin Yazid bin Majah, ar-Rabi’iy al-Qazwainiy.
Kitab beliau ini cukup bermanfaat, hanya saja kedudukannya di bawah lima kitab hadis terdahulu. Di dalam kitab ini terdapat banyak hadis-hadis dla’if, dan sejumlah hadis.
Catatan;
Apabila ahli hadis mengatakan, “Hadis yang diriwayatkan atau dikeluarkan oleh as-Sittah” maka maksud dari ungkapan tersebut adalah hadis yang dicantumkan di dalam kitab Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Jami’ at-Tirmidzi, Sunan an-Nasa’i, dan Sunan Ibnu Majah.
Dan apabila dikatakan, “Diriwayatkan atau dikeluarkan oleh al-Arba ’ah”, maka yang dimaksudkan adalah Sunan Abu Dawud, Jami’ at-Tirmidzi, Sunan an-Nasa’i, dan Sunan Ibnu Majah.
* * *
MUWATHTHA’ IMAM MALIK
Kitab Muwaththa’ adalah, kitab yang ditulis dengan urutan sesuai bab-bab fiqh, hanya saja berbeda dengan kitab Sunan dari segi kandungan kadis marfu’, mauquf dan maqthu’
Imam Malik adalah Malik bin Anas bin Malik bin Abu Amir bin Amru bin al-Harits, Abu Abdillah al-Madaniy, syaikhul Islam, dan Imam Darul Hijrah.
Muwaththa’ memuat hadis sahih yang jumlahnya sangat besar, dan sedikit hadis dla’if. Di dalamnya terdapat kata mutiara yang tidak ada hukumnya kecuali apabila jelas sanadnya.
Tentang kitab ini Imam Syafi’i berkomentar, “Aku tidak mengatahui adanya kitab yang paling sahih setelah kitabullah, selain dari muwatha’ karya Imam Malik”. Komentar Imam syafi’i ini dikemukakan sebelum adanya kitab shahih Bukhari dan Muslim. Sebab ummat telah sepakat bahwa kitab yang paling sahih setelah Alqur’an adalah shahihaini.
Di dalam kitab al-Muwaththa’ ada pendapat-pendapat dan hukum-hukum menurut imam Malik yang harus dipegangi dengan kuat.
* * *
MUSNAD IMAM AHMAD
Musnad adalah kitab yang disusun oleh pengarangnya dengan mengurutkan daftar nama shahabat, lalu ditampilkan hadis-hadis yang periwayatannya sampai kepadanya, dari seorang shahabat tertentu di dalam musnad shahabat tersebut, kemudian shahabat lain di dalam musnad shahabat lainnya. Demikianlah kitab ini disusun, dengan mengesampingkan tema hadis.
Kitab musnad yang paling terkenal, paling luas, paling banyak manfaatnya adalah Musnad Imam Ahmad bin Hanbal. Ada yang mengatakan, kitab ini memuat sekitar 40.000 hadis, ada yang menyebutkan 30.000 hadis, atau mendekati angka tersebut. Sesungguhnya naskah Musnad Imam Ahmad yang sudah dicetak berulang-ulang kandungan hadisnya mencapai 27.688 buah hadis. Allahu A’lam bish-Showab.
Kitab ini memuat hadis sahih, hasan dan da’if, bahkan di dalamnya terdapat pula beberapa hadis maudlu’, meskipun hanya sedikit, tidak seperti pengakuan sebagian orang yang menyangka tiada hadis maudlu’ di dalam kitab ini.
Kitab ini merupakan salah satu kodifikasi hadis yang sangat diperlukan, oleh ummat Islam. Penyusun memulai kitabnya dengan musnadnya 10 orang shahabat yang telah dijanjikan sorga, didahulukan Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar, Utsman, Ali, kemudian shahabat yang lainnya yang termasuk sepuluh itu. Kemudian disebutkan hadis Abdurrahman bin Abu Bakar, kemudian tiga hadis dari tiga orang shahabat, kemudian musnad ahlul Bait,dia menyebutkan hadis-hadis mereka, demikian seterusnya sampai tuntas dengan hadis Syidad bin al-Had ra .

Ramadhan 1437 H

 

Ramadhan tahun ini begitu special bagi saya, untuk menghadapi bulan puasa kali ini (1437 H) saya sudah mempersiapkannya 2 bulan sebelum kedatangannya padahal untuk menghadapinya disarankan 6 bulan sebelumnya sudah harus mempersiapkan baik fisik maupun mental, tapi tidak mengapa lah yang penting sudah disiapkan walaupun dengan sangat minim.

Pada saat bulan penuh hikmah itu datang, rasanya senang sekali karena sudah berusaha untuk mempersiapkannya walaupun hanya sedikit saja, hari-hari pertama Ramadhan 1437 H seperti hari – hari biasa tidak ada rasa lapar dan haus mungkin apakah ini karena sudah dipersiapkannya sebelumnya, Tarawih pertama dilakukan di Masjid Jami Bintaro dan hari pertama puasa begitu sepi jalanan di Jakarta seolah – olah sudah mendekati hari Lebaran. Puasa tahun 1437 H begitu sejuk dikarenakan hujan banyak sekali turun walaupun sering pula siang harinya cuaca begitu terik namun secara keseluruhan cuaca sangat mendukung tidak seperti puasa 1436 H yang begitu panasnya dari sebelum puasa hingga beberapa bulan setelah lebaran sampai beberapa tempat mengalami kekeringan sampai – sampai cuaca di puncak tidak ubahnya seperti cuaca di Jakarta.

Pertengahan Ramadhan baru mulai muncul sedikit masalah dan sedikit konflik, syukur Alhamdulillah semuanya bisa diatasi, pekerjaan rasanya begitu ringan, teman – teman yang saling mendukung, dan suasana yang nyaman membuat segala masalah dan konflik bisa terpecahkan. Ide – ide segar dan rencana – rencana baru mulai muncul dipertengahan bulan itu, mungkin Tuhan Yang Maha Esa memberikan petunjuk dan hidayahnya sehingga rasa semangat itu muncul lagi didalam Qolbu ini.

Ramadhan 1437 H begitu berharga bagi diriku ini, banyak pengalaman spiritual yang singgah dalam pikiran dan menyentuh relung hati paling dalam, berkah Ramadhan tahun 1437 H banyak sekali intropeksi diri sendiri, dan solusinya. Ramadhan ini pula saya merasa lebih baik dari Ramadhan sebelumnya, saat ini usia saya 35 tahun tapi kok rasanya ini adalah Ramadhan terbaikku selama ini, puasa tidak batal, tarawih hampir penuh, tilawah bisa hatam, dan sedekah lebih banyak serta berdzikir lebih sering. Kejadian – kejadian yang menghampiri seakan tidak bisa dipercaya mulai dari pekerjaan sampai masalah rumah tangga dan semuanya positif.

Diakhir Ramadhan ini saya banyak melakukan perjalanan ke Masjid – masjid besar dan indah di Jakarta dan sekitarnya, banyak sekali hikmahnya yang dapat di petik dari perjalanan tersebut, banyak menemui hal – hal yang baru. Untuk melakukan perjalan ini biasanya kami setelah Dzuhur sudah mulai bersiap – siap dan pukul 14:00 – 14:30 pasti sudah pergi dari rumah, Ya Alloh pertemukan kami dengan Ramadhan tahun depan 1438 H Insya Alloh agar kami bisa beribadah lebih baik lagi. akhir kalam saya hanya bisa mengucap Alhamdulillah dan selamat Iedul Fitri 1437 H Mohon Maaf Lahir Bathin.

Muawiyah Bin Yazid

Alkisah mengenai pemimpin yang doanya didengar Alloh.
Mungkin kita tidak pernah mengenal sosok ini, memang dia salah satu khalifah yang tidak menonjol secara kepemimpinan, namanya adalah Muawiyah Bin Yazid yang merupakan Khalifah ke 3 dari Bani Umayyah.

Ketika diangkat menjadi Khalifah usianya baru 23 tahun dan satu – satunya pidato yang dikeluarkan dihadapan masyarakatnya “Saya mendapatkan amanah kepemimpinan, saya bukan orang yang terbaik diantara kalian, sementara saya orang yang lemah secara fisik maka carilah pengganti saya”, setelah itu Muawiyah tidak pernah keluar istananya dan sejarah hanya mencatat hanya 40 hari menjadi Khalifah

Muawiyah tidak menunjukkan seorang pun sebagai penggantinya, dia tidak mau terbebani oleh tanggung jawab kepemimpinan atas orang yang dia tunjuk, dia tidak melihat sosok Umar ketika Abu Bakar menunjuk Umar dan dia juga tidak melihat sosok para sahabat ketika memilih utsman.

Menjelang wafaatnya Muawiyah sempat memberikan kritik kepada keluargnya, dia berkata “Sudah cukup sampai disini kekuasaan keluarga besar Abu Sofyan”, dan ternyata perhatikan kalimat yang dikeluarkan oleh pemimpin yang sholeh itu, setelah kepemimpinannya Khalifah selanjutnya bukan dari garis keturunan Abu Sufyan tapi dari Abdul Ash, Abu Sofyan dan Abdul Ash sama – sama anak dari Umayyah maka Dinasty mereka disebut Bani Umayyah

Kita perlu pemimpin yang adil dan sholeh, karna saat keadaan genting atau sulit maka kalimat dan doanya didengar oleh Alloh SWT, karena Imamul Adil jangankan kalimatnya di dunia, bahkan ini adalah salah satu kelompok dari 7 kelompok yang akan dilindungi ketika tidak ada perlindungan lagi di yaumul Kiyamah

View on Path

Hajjaj Bin Yusuf

Alkisah suatu masa Kekhalifahan Umayyah mempunyai seorang Panglima perang yang begitu hebat dan sangat kontroversial, namanya Hajjaj Bin Yusuf. Dia adalah Panglima paling disayang oleh Khalifah Abdul Malik Bin Marwan, Al Hajjaj awalnya adalah seorang guru namun krn fitnah ke 2 yg melanda muslimin(ada 2 klaim Kekhalifahan yaitu Damaskus dan Mekkah ) akhirnya dia mendaftar sebagai tentara krn kecerdasan dan keberaniaanya akhirnya diangkat sebagai pengawal Sang Khalifah.

Diawal karir nya sebagai tentara dia berhasil mengalahkan Khalifah Abdullah Bin Zubair yg menguasai Hijaz dan Irak, adapun dalam penaklukkan itu pasukan Hajjaj melakukan kerusakkan terhadap kota Mekkah ibukota Khalifah Abdullah Bin Zubair hingga salah satu dinding Kabah Runtuh akibat serangan Manjandik. Dan kesalahan terbesarnya adalah Hajjaj sangat mudah menumpahkan darah bahkan darah ulama yang tidak sesuai dengan pemikirannya dan kesalahan kecil saja bisa berakibat hukuman pancung.

setelah kekacauan melanda dihampir smua kota kota besar telah berhasil di padamkan, dan pada saat negeri sudah damai Hajjaj mulai melakukan perbaikkan dan pembangunan, berkat beliau kekuasaan Islam mencapai Maroko dan memerintahkan Musa Bin Nuasair serta Thariq Bin Ziyad menyebrangi ke spanyol di barat sementara di Timur pasukannya sudah mencapai daerah Sind di India dan Asia Tengah. Salah satu jasa besarnya adalah beliau yg menambahkan huruf tajwid dalam Quran sehingga mudah dibaca oleh orang.

Orang orang Syam sangat mencintainya sementara orang orang Irak sangat membencinya akibat kekejamannya. Ada pendapat yg tengah seperti Ulama sejarah Al Zahabi menyimpulkan “Hajjaj mempunyai kebaikan kebaikan yang begitu besar namun ada dilautan dosa dosanya”. Biarlah kita ambil pelajaran dari Kisah Al Hajjaj ini agar kita selalu berkata yg obejctif/ jujur tentang seseorang, pada saat kita tidak mungkin menyimpulkan maka seperti Ulama tadi yang berkata “Maka urusannya kita serahkan ke Alloh Ta’ ala”

View on Path

Doa Sulaiman

Kalo bukan karna Sulaeman

Alkisah suatu saat para sahabat Nabi SAW mengeluhkan susahnya kusyu’ dalam sholat mereka krn diganggu oleh setan, Sang Utusan Tuhan tersenyum dan mengatakan itulah tingkatan iman, dan kalo temannya setan tidak perlu diganggu.

Beliau pun bercerita suatu malam ketika sedang sholat diganggu oleh setan dan Nabi pun bergemul hingga setan itu kalah, keesokkan paginya beliau masih merasakan dinginnya gigitan setan ditangannya, beliau berkata “kalau bukan krn doa Sulaeman, akan aku ikat setan itu ditiang hingga anak anak Madinah bisa mempermaenkannya”

Lalu apa doa Nabi Sulaeman ” Ya Alloh berikan aku kerajaan yang tidak bisa dimiliki oleh orang laen setelah Aku”. Dan Rob Yang Maha Perkasa mengabulkannya dengan memberikan kerajaan Jin sehingga bisa memperkerjakan mereka.

Mudah2an kita bisa memetik hikmah dari cerita itu

View on Path

Tentang Labu

Labu

Tau kah Engkau tentang buah labu, ini adalah salah satu buah yang ada di Quran (ash-Shaffat:139-148)
Alkisah pada saat Nabi Yunus terombang-ambing dalam perut ikan paus dalam waktu cukup lama, kemudian dilemparkanlah beliau di daratan yang tandus sedang kan, beliau dalam keadaan sakit atau berbadan lemas dan Tuhan Yang Maha Esa menumbuhkan sebatang pohon dari jenis labu agar dimakan buahnya dan mengembalikan kesehatan yang lemah tadi.
Pantesan kolak biasanya ada buah labunya….dan buah ini bisa dimakan kulit serta bijinya ataupun dimakan langsung berserta kulitnya….mau coba
#Kisah31Nabi_IbnuKatsir

Titik Nadir

Ciawi 12 May 2016.

 

Sebagai hari yang akan diingat sebagai titik kembalinya………secara lahir sedang dipersiapkan dan secara bathin sedang ditingkatkan, disela – sela hujan yang mengguyur Pusdiklat di Ciawi ini dan ditemani secangkir kopi hangat………tahun ini semuanya harus berubah tanpa ada pengecualian, cukup sudah 6 tahun…. Ya Robbi percepatlah perubahan itu………..