Pertama kali mendengar pulau umang saya berpikir itu merupakan pulau yang ada di kepulauan seribu, namun setelah mengetahui dari internet saya terkejut karena ternyata pulau itu berada di ujung pulau jawa, wak……………..jatuh tenan rek……., wah kayaknya menjadi perjalanan yang menarik nih, sambil narik napas yang panjang, sambil menikmati secangkir kopi hangat dan donat di baple Blok M Square maklum pada saat itu hujan ga perhenti – henti kebetulan pada saat itu saya baru saja mampir ke rumah calon istri di bintaro trus kehujanan di jalan tapi niat hati tetap mau ke blok m , karena rambutnya kyaknya belum dipotong ya sudah mampir ke blok m sehabis potong rambut lalu surfing.

Setelah dapat info tentang umang…………saya cari dengan lokasi dengan tepat, ternyata eh…ternyata setelah ada pembicaraan dengan sales salah satu tour and travel, waktu yang ditempuh kira – kira 5 jam dari jakarta.

 

image

Tibalah untuknya untuk pergi yaitu tanggal 18 Nov 2009 bersiaplah kami ( saya dan istri tercinta) karena jam janji dengan kendaraan yang akan menjemput kami jam 8 wib atau jam 8 pagilah waktu di indonesia barat, tapi yang namanya travel di jakarta wah……susah banget on time………..saya dah tunggu dari jam 7 pagi….ternyata eh ternyata ( kyak lagunya bang Haji) kendaraannya datang jam 10 kurang dengan berbagai macam alasan yang menurut saya ga masuk akal tapi sudahlah….mau gimana lagi……karena saya butuh kalo dia dan keselamatan kami tergantung dengan dia daripada 5 jam kami bete….mendingan diem lagian udah ada istri cantik yang akan menyenangkan hati (hehehehehehehhehehehehehehehe). Awal perjalanan sangat menyenangkan pertama keluar dari pondok aren masuk ke daerah ciledug dengan jalan – jalannya yang sempit dah lalu lintas yang padat lalu masuk tol, sampai tol kami keluar di pintu tol serang timur lalu kami ke arah padeglang. wah…..lama sekali sampainya, saya melihat jalan – jalan di padeglang memang indah masih terasa di luar sekali, kehidupannya masih sangat menarik, banyak sekali anak – anak SD berpakaian sedikit kumal untuk yang laki – lakinya dan perempuannya menggunakan hijab itu mengingatkan saya seperti tahun 1987  sampai dengan awal 1990, sampai dengan pertengahan di padeglang saya banyak disekeliling jalan terdapat banyak sekali pohon kelapa, wah kalo di bisnisin pasti mantep ini, indonesia sangat kaya dengan hasil pertanian dan perkebunannya……andai bisa dimanfaatkannnya, lalu sampailah kami di tepi pantai jalanannya sangat kecil tapi sepi namun di kiri dan kanan banyak sekali cottage atau rumah – rumah orang kaya di kota, jalan tersebut sangatlah indah hampir terasa sudah sampai namun katanya masih jauh, wah saya pikir dah mau sampe…….udara diluar juga dingin karena pada saat memasukki kota padeglang hujan besar mengguyur dengan lebat kearah kendaraan kami, saya sedikit iseng dengan membuka jendela kendaraan kami, subhanallah segar sekali udara di luar, merasa kan lembutnya udara pantai setelah diguyur hujan lebat ingin sekali hati ini berhenti disini dan tidak melanjutkan perjalanan kemudian bersandar dibawah pohon kelapa sambil memandangi lautan yang indah ini kemudian mengucapkan syukur atas rahmat dan nikmat hidup di dunia yang fana. Cukup berhayal saya, sekarang kembali ke perjalanan, setelah melewati keindahan pantai masuklah kami ke daerah pendalaman meliwati labuhan, tibalah kami ke pedalaman barat banten daerah yang masih bisa dibilang agak lambat laju pertumbuhan ekonomi, itu bisa diliat dari jalan yang banyak rusak dan rumah – rumah penduduk disekitarnya banyak mengingatkan saya pada masa awal tahun 1980-an atau 1970 akhir, karena banyak rumah gubuk yang ada disana, dan suasananya sepi sekali mobil atau motor cuman sesekali melewati kami, jalanan mirip Alas Roban ( jalanan yang paling curam di daerah pantura, letaknya didaerah batang Jawa Tengah ). Istriku tercinta mulai pusing dengan kondisi jalan yang tidak bagus tapi kami mulai menemukan titik – titik terang dalam perjalanan kami, mulai terlihat tanda – tanda pulau – umang makin dekat dengan melihat pulau umang 10 km, disusul dengan 7,5 Km, diikuti dengan 5 km, mata kami terang ketika melihat pulau umang 2,5 Km, kami pun segera persiap – siap, yang terakhir kami memasuki sebuah pasar yang bisa tebak itu merupakan pasar yang ada di kabupaten atau kecamatan tersebut, pasarnya tidak lebih dari sebuah blok jalan tidak lebih dari 500 meter panjangnya setelah itu tidak ada keramaian lagi, hati pun senang karena melihat tulisan 1 km pulau umang, dari jalan utama ada billboard besar sekali yang menandakan pulang umang belok ke kiri, akhirnya kendaraaan kami memisahkan diri dengan jalan utama dan masuk kejalan yang lebih sempit, kami lihat sekeliling tidak ada tanda – tanda dermaga yang ada cuma rumah dan tempat mengeringan ikan, tapi kendaraan kami tetap maju walaupun hujan deras membasahi bumi ini tapi rasa penasaran kami akan derma yang akan membawa kami ke pulau tersebut makin mengebu – gebu, akhirnya kami berhenti disebuah pos yang tidak terlalu besar tapi tidak juga kecil, kami akhirnya berhenti di pos tersebut sambil menunggu jemput kami, oh ya saya lupa memberitahu selama diperjalanan saya selalu perhubungan dengan guide kami di resort tersebut, namanya Jimmy ( asli bandung euhuy)  tapi kami memanggil dia dengan sebutan Jim, sambil menunggu Jim kami duduk di pos tersebut, tak berapa lama Jim datang dengan beberapa orang, pertama kami mengenal Kang Jim ada sinar keramahan dari dirinya, akhirnya barang 2 kami dibawa oleh orang – orang yang ikut dengan Jim, kami pun harus menggunakan jas hujan karena hujannya sangat deras, kami menuju sebuah dermaga kecil, dermaga tersebut terbuat dari kayu dan sangat licin jika hujan turun sehingga kami sangat berhati – hati melaluinya, akhirnya kami sampai di sebuah ferry yang telah menunggu kami, hujan pun semakin deras dan angin bertiup lebih kencang, nahkodanya menyapa kami “Selamat Sore Pak, selamat datang di kapal kami, kita akan tempuh perjalanan ini selama 5 menit saja”, saya terheran –heran kenapa cuma 5 menit padahal asumsi saya itu membutuhkan waktu yang agak lama, tapi nahkodanya sambil menunjuk sebuah pulau yang tak jauh dari dermaga tempat kami meninggalkan pulau utama. selama perjalanan ke pulau umang saya merasakan ombak yang lumayan keras menerjang – nerjang perahu kami, istri ku memang tanganku, saya rasa dia agak takut dengan kondisi yang ada tapi saya berusaha meyakinkan dia semuanya tidak ada masalah, akhirnya setelah kurang lebih 5 menit terombang – ambing di selat yang kecil itu kami sampai juga di sebuah dermaga, kemudiaan kami segera turun namun