imagesLampion Jadi begini pren sebenarnya tulisan ini ditujukan buat sahabat – sahabat saya, yaitu : Agus (Akuang Lie) asal Pontianak, Hendra (Kho Hian Kuang) asal Bangka, dan Edward Setiadi asal Petak 9 Glodok, dalam rangka menyambut tahun baru Imlek 2562, Gong Xi Fa Cai buat kalian semua pren, teringat saya akan tahun 2007 dimana saya berkenalan dengan mereka bertiga di kantor, mereka merupakan mahasiswa yang baru saja lulus kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta di jakarta barat yang cukup terkenal (sorri saya ga mau nyebutin nama universitasnya nanti dikira promosi), awalnya mereka sangat pemalu tapi kenapa makin lama makin malu maluin (wakakakakakkaka) terutama Akuang Lie. Di tahun 2007 kira – kira bulan 8 kami mengimplentasi program kami di salah satu rumah sakit di daerah BSD, disana banyak sekali pasien yang berasal dari daerah tangerang dan sekitarnya terutama pasiennya adalah warga keturunan yang berasal dari warga keturunan tionghoa, namun Edward bilang kepada saya “Mas Ono itu rata-rata yang kesini adalah Cina Benteng, liat aja kulitnya agak beda kan ? mereka tidak terlalu putih (gelap) walaupun matanya tetap sipit”, dari situlah saya jadi pengen tahu siapakah Cina Benteng itu ? mengapa mereka agak berbeda dengan yang ada di jakarta, maka pencarian pun di mulai.

Asal Mula Cina Benteng

RumahAdat

Nama “China Benteng” berasal dari kata “Benteng”, nama lama kota Tangerang. Saat itu terdapat sebuah benteng Belanda di kota Tangerang di pinggir sungai Cisadane, difungsikan sebagai post pengamanan mencegah serangan dari Kesultanan Banten, benteng ini adalah salah satu benteng terpenting Belanda dan merupakan Benteng terdepan pertahanan Belanda di pulau Jawa. Masyarakat Cina Benteng telah beberapa generasi tinggal di Tangerang yang kini telah berkembang menjadi tiga kota/kabupaten yaitu, Kota Tangerang, Kabupaten Tangerang dan Kota Tangerang Selatan.

Tempat Etnis Cina Pertama Mendarat di Jakarta

Menurut kitab sejarah Sunda yang berjudul Tina Layang Parahyang (Catatan dari Parahyangan), keberadaan komunitas China di Tangerang dan Batavia sudah ada setidak-tidaknya sejak 1407 NI. Kitab itu menceritakan tentang mendaratnya rombongan pertama dari dataran Cina yang dipimpin Tjen Tjie Lung alias Halung di muara Sungai Cisadane, yang sekarang berubah nama menjadi Teluk Naga.

Namun, pada 1740 terjadi kerusuhan yang berbuntut pembantaian orang Tionghoa di Batavia. Tidak kurang 10 ribu orang Tionghoa dibantai dalam peristiwa kekerasan yang dikenal dengan Tragedi Berdarah Angke pada 9 Oktober 1740 itu. Kerusuhan itu disebabkan karena Gubernur Jenderal Valkenier menangkap orang Tionghoa untuk dijadikan pekerja di perkebunan-perkebunan VOC di luar Batavia. Dari mereka yang selamat, ada yang lari dan menetap di kawasan Benteng, Tangerang.

Map picture

Pemberontakkan Cina 1740 di Batavia dipimpin oleh Nie Ho Kong itu direspon secara keji oleh Gubernur Jenderal Valkenier, kekalahan Nie Ho Kong membuat ia melarikan diri ke  Jawa Tengah dan sampai di Solo. Ma Uk memimpin  rombongan pelarian menyusuri pantai Utara Tangerang dan berhenti di wilayah yang sekarang disebut Mauk.

 

Pelarian Orang Cina Benteng

Daerah Pelarian Cina Benteng

Nie Ho Kong memimpin pelarian menyusuri sungai Cisadane, sebagian berhenti di Sewan dan Neglasari sampai ke tanah kosong bernama Karawaci kemudian menyebrangi sungai Cisadane, sesuai dengan perjanjian damai 10 Juli 1659 tapal batas kesultanan Banten dan VOC adalah sungai Cisadane, sisi timur Cisadane milik VOC dan sisi baratnya milik Banten. Jika ingin aman orang Cina harus menyebrangi sungai Cisadane, itulah yang dilakukan oleh nenek moyang Cina Udik di Panongan, Tigaraksa, Curug, Legok, Balaraja, dan lainnya. di Kesultanan Banten, orang  – orang ini mendapat perlindungan dari sultan Haji, mereka di mukimkan di wilayah – wilayah tanpa pendudukdan diberi kebebasan membangun pemukiman, mengolah lahan, dan membangun persawahan.

 rumahcinabenteng Mereka  membangun rumah pertama – tama secara bergotong royong, mulai dari menebang pohon, membuat balok – balok kayau, dan papan, sampai mendirikan rumah. Seiring perjalanan waktu jumlah mereka bertambah banyak, para laki – laki tetap tinggal di desa dan para perempuannya dibawa keluar kampung oleh suami mereka. Ketika Banten melemah masyarakat Cina Benteng hidup tanpa perlindungan, ancaman pencurian, perampokkan, pemerkosaan, dan pembunuhan menghantui mereka bertahun – tahun, salah satu bukti yang nampak adalah banyak rumah masyarakat Cina di Panongan, Tigaraksa, Legok, dan Curug dilengkapi lubang perlindungan. “Bungker tersebut berada di bawah ranjang, fungsinya bila terjadi kejahatan mereka akan bersembunyi disana”. Segalanya mulai rumit ketika VOC makin rumit, VOC memberlakukan sistem mata uang untuk menarik semua masyarakat ke dalam ekonomi pasar. sebagai solusinya mereka meyewa jawara sebagai pengamanan, jawara – jawara tersebut menjamin keselamatan mereka di perjalanan serta di pemukiman serta mengawal sampai ke pasar, poros niaga mereka adalah pasar Curug dan Cikupa, serta pasar lama

RumahAdatItulah sebabnya banyak orang Cina yang tinggal di pedesaan di pelosok Tangerang-di luar pecinan di Pasar Lama dan Pasar Baru.
Meski demikian, menurut pemerhati budaya Cina Indonesia, David Kwa, mereka yang tinggal di luar Pasar Lama dan Pasar Baru itu tetap disebut sebagai Cina Benteng.
Sebagai kawasan permukiman Cina, di Pasar Lama dibangun kelenteng tertua, Boen Tek Bio, yang didirikan tahun 1684 dan merupakan bangunan paling tua di Tangerang. Lima tahun kemudian, 1869, di Pasar Baru dibangun kelenteng Boen San Bio (Nimmala)

 

Pakaian adat

 Keluarga Pakaian adat etnis Cina Benteng merupakan perpaduan antara pakaian adat suku besar Tionghoa (yang didominasi suku Hokian) dan pakaian adat suku Betawi. Pakaian adat prianya berupa baju koko hitam dan celana panjang, dengan topi yang khas yang mirip dengan caping. Sedangkan pakaian adat wanitanya dinamakan hwa kun, yang berupa blus dan bawahan lengkap dengan hiasan kepala serta tirai penutup wajah. Namun seringkali digunakan pula kebaya encim, dengan aksen kembang goyang sebagai hiasan kepala, yang menunjukkan pengaruh Betawi dalam pakaian tersebut.

 

 

Karakteristik

Masyarakat Cina Benteng umumnya berkulit orang_Artis_Cina_Bentenggelap, mereka kadangkala disebut sebagai orang cina batu, yaitu masyarakat Cina yang memiliki karakter keras laksana batu. Masyarakat Cina Benteng tersebar dalam beberapa lokasi, yaitu daerah Cengklong, Dadap, Mauk, Sewan, Karawaci, Pasar Baru, dsb. Masyarakat Cina Benteng yang merupakan masyarakat Cina peranakan secara umum telah mewarnai kehidupan warga Betawi khususnya. Gambang kromong sebagai kebudayaan betawi merupakan sumbangsih besar masyarakat cina peranakan khususnya budaya cina benteng. Kesenian gambang kromong mengadopsi beberapa seni tradisional Cina peranakan

Masa kini

GambarCinaBentengOrang China Benteng dikenal dengan warna kulitnya yang sedikit lebih gelap (walaupun tetap berkulit kuning) dibandingkan warga keturunan China lainnya di Indonesia, mereka lebih mirip dengan orang-orang Vietnam ketimbang orang Tiongkok. Kesenian mereka yang terkenal adalah kesenian campuran betawi-tionghoa, Cokek yaitu sebuah tarian berpasangan lelaki dan perempuan dengan orangRumahCinaBentengiringan musik gambang kromong. Agama yang dianut beragam antara lain Konghucu, Buddhisme, Taoisme, Katholik, Protestan, Pemujaan Leluhur, Pemujaan Surga, dan ada sedikit yang beragama Islam.

About these ads